Nama : Desi Ratnasari
Kelas : 3PA13
Npm : 12513208
EMPOWERMENT, STRES DAN KONFLIK
Rumusan masalah
1. apa itu empowerment?
2. apa itu stress?
3. apa itu konflik?
1. Empowerment
A.
Pengertian
Empowerment
Shardlow (1998),
pemberdayaan pada intinya membahas bagaimana individu, kelompok ataupun
komunitas berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk
membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka.
Empowerment adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi dan
politik yang merangkum berbagai nilai sosial. Konsep ini mencerminkan paradigma
baru pembangunan yang bersifat “people centered, participatory, empowering, and
sustainable” (Chambers, 1988).
Menurut Webster (dalam
Muniarti, 2008 ) mengandung dua arti. Pengertian pertama adalah to give power
or authority to, dan kedua berarti to give ability to or enable. Dalam
pengertian pertama, pemberdayaan diartikan sebagai memberi kekuasaan,
mengalihkan kekuatan, atau mendelegasikan otoritas kepada pihak lain. Sedangkan
dalam pengertian kedua, pemeberdayaan diartikan sebagai upaya untuk memberi kemampuan
atau keberdayaan.
Menurut Chamber
(Edi Suharto, 2005), pemberdayaan sebagai paradigma baru pembangunan, yakni
yang bersifat “peoplecentered, participatory, empowering, and sustainable”.
Konsep ini lebih luas dari hanya semata-mata memenuhi kebutuhan dasar (basic
needs) atau menyediakan mekanisme untuk mencegah proses pemiskinan lebih lanjut
(safety net), tetapi juga keberlanjutan pembangunan dalam masyarakat.
1)
Target dan
Tujuan
Target dan tujuan
pemberdayaan itu sendiri dapat berbeda sesuai dengan bidang pembangunan yang
digarap.
2)
Tujuan
Pemberdayaan
a.
Bidang ekonomi :
agar kelompok sasaran dapat mengelola usahanya, kemudian memasarkan, dan
membentuk siklus pemasaran yang relatif stabil.
b.
Bidang
pendidikan : agar kelompok sasaran dapat menggali berbagai potensi yang ada dalam
dirinya, dan memanfaatkan potensi yang dimiliki untuk mengatasi permasalahan
yang dihadapi.
c.
Bidang sosial :
agar kelompok sasaran dapat menjalankan fungsi sosialnya kembali sesuai dengan
peran dan tugas sosialnya.
B.
Kunci
efektif Empowerment
Konsep
pemberdayaan (empowerment), menurut Friedmann muncul karena adanya dua
primise mayor, yaitu “kegagalan” dan “harapan”. Kegagalan yang dimaksud adalah
gagalnya model pembangunan ekonomi dalam menanggulangi masalah kemiskinan dan
lingkungan yang berkelanjutan, sedangkan harapan muncul karena adanya
alternatif-alternatif pembangunan yang memasukkan nilai-nilai demokrasi,
persamaan gender, peran antara generasi dan pertumbuhan ekonomi yang memadai.
Dengan dasar pandangan demikian, maka pemberdayaan masyarakat erat kaitannya
dengan peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan
pada masyarakat, sehingga pemberdayaan masyarakat amat erat kaitannya dengan
pemantapan, pembudayaan dan pengamalan demokrasi.
Selanjutnya Friedmann
dalam Prijono dan Pranaka (1996) menyatakan bahwa kekuatan aspek sosial ekonomi
masyarakat menjadi akses terhadap dasar-dasar produksi tertentu suatu rumah
tangga yaitu informasi, pengetahuan dan ketrampilan, partisipasi dalam
organisasi dan sumber-sumber keuangan, ada korelasi yang positif, bila ekonomi
rumah tangga tersebut meningkatk aksesnya pada dasar-dasar produksi maka akan
meningkat pula tujuan yang dicapai peningkatan akses rumah tangga terhadap
dasar-dasar kekayaan produktif mereka.
Soetrisno (1995:139)
mengemukakan bahwa paradigma pemberdayaan (empowerment) ingin mengubah kondisi
tersebut dengan cara memberi kesempatan pada kelompok orang miskin untuk
merencanakan dan kemudian melaksanakan program pembangunan yang juga mereka
pilih sendiri. Kelompok orang miskin ini juga diberi kesempatan untuk mengelola
dana pembangunan, baik yang berasal dari pemerintah maupun dari pihak lain.
Kemudian timbul pertanyaan, apa perbedaan antara model pembangunan partisipatif
dengan model pemberdayaan rakyat (empowerment). Perbedaannya terlihat bahwa
dalam model pemberdayaan, rakyat miskin tidak hanya aktif berpartisipasi dalam
proses pemilihan program, perencanaan, dan pelaksanaannya tetapi mereka juga
menguasai dana pelaksanaan program itu. Sementara dalam model pembangunan yang
partisipatif keterlibatan rakyat dalam proses pembangunan hanya sebatas pada
pemilikan, perencanaan dan pelaksanaan, sedangkan pemerintah tetap menguasai
dana guna mendukung pelaksanaan program tersebut.
2. Stress
A. Definisi Stress
Menurut Robbins
(2001:563) stress juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan
keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai
kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang.
Menurut Handoko (dalam
Umar, 1998) stress merupakan suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi proses
berpikir dan kondisi seseorang. Kondisi yang cnderung menyebabkan stress
disebut stressor. Menurut Selye (dalam Soeharto) stress adalah respon yang
tidak spesifik dari tubuh terhadap tuntutan yang diterimanya.
Menurut lazarus
(1976), stres adalah suatu keadaan psikologis individu yang disebabkan karena
individu dihadapkan pada situasi internal dan eksternal.
Menurut Korchin
(1976), keadaan stress muncul apabila tuntutan-tuntutan yang luar biasa atau
terlalu banyak mengancam kesejahteraan atau integrasi seseorang.
B. Sumber Stress
Menurut Robins (1996 :224) sumber stres yang potensial
adalah sebagi berikut :
a.
Faktor
lingkungan, meliputi:
1.
Ketidak pastian
ekonomi
2.
Ketidak pastian
politik
3.
Ketidak pastian
teknologi
b.
Faktor
organisasi, meliputi:
1.
Tuntutan tugas
2.
Tuntutan peran
3.
Tuntutan antar
pribadi
4.
Struktur
organisasi
5.
Kepemimpinan organisasi
6.
Tahapan hidup
organisasi
c.
Faktor
individual, meliputi:
1.
Masalah keluarga
2.
Masalah ekonomi
3.
Kepribadian
Menurut Grant
Brecht (2000), penyebab dari stress dibedakan menjadi dua macam:
a) Penyebab makro, yaitu menyangkut peristiwa besar dalam
kehidupan,seperti kematian, perceraian, pension, luka batin, dan kebangkrutan.
b) Penyebab mikro, yaitu menyangkut peristiwa kecil
sehari-hari, seperti pertengkaran rumah tangga, beban pekerjaan, masalah
apa yang akandimakan, dan antri.
Menurut Prijosaksono
dan kurniali (dalam Zainul, 2007) sumber stress utama dibagi menjadi empat
golongan:
1.
Survival stress, stress
ini dapat terjadi dalam suatu keadaan dimana keselamatan jiwa terancam.
2.
Internally stress, hal
ini dapat disebabkan oleh kekhawatiran yang berlebihan atas yang diluar kontrol
kita, biasanya ini terjadi akibat tingkah laku kita sendiri, atau suatu keadaan
yang kita ciptakan sendiri.
3.
Environmental & job
stress, lingkungan kerja yang tidak kondusif, tempat tinggal yang tidak nyaman
dan sumpek, kemacetan lalulintas bisa memicu stress.
4.
Fatigue & overwork,
terlampau banyak hal yang ingin dikejar, dikerjakan, dan banyak rencana namun
tidak fokus dapat memicu stress. Demikian pula dengan orang yang terjebak ke
dalam perilaku kerja berlebihan (workaholic), maka ia masuk dalam perangkap
stress of ovework
C. Pendekatan Stress
Menurut Robbins, (2002: 311-312), ada dua pendekatan
dalam mengatasi stres, yaitu:
1. Pendekatan individual
Seorang karyawan dapat memikul tanggung jawab pribadi
untuk mengurangi tingkat stresnya. Strategi individu yang telah terbukti
efektif adalah:
a. Teknik manajemen waktu
b. Meningkatkan latihan fisik
c. Pelatihan pengenduran (relaksasi)
d. Perluasan jaringan dukungan sosial
2. Pendekatan Organisasional
Beberapa faktor yang menyebabkan stress terutama
tuntutan tugas dan peran, struktur organisasi dikendalikan oleh manajemen.
Strategi yang digunakan:
a. Perbaikan seleksi personil dan penempatan kerja
b. Penggunaan penetapan tujuan yang realistis
c. Perancangan ulang pekerjaan
d. Peningkatan keterlibatan kerja
e. Perbaikan komunikasi organisasi
f. Penegakkan program kesejahteraan korporasi
3.
Konflik
A. Definisi Konflik
Menurut Soejono
Soekanto (dalam) mengungkapkan bahwa konflik merupakan pertentangan untuk
berusaha memenuhi tujuan dengan jalan menentang piak lawan. Konflik adalah
perjuangan nilai atau atau tututan atas status (Coser dalam). Menurut Shah Mad
konflik merupakan suatu suasana yang melibatkan pertentangan antara dua belah
pihak akibat daripada ketidaksamaan matlamat yang hendak dicapai,
ketidakselarasan aktivi kearah pencapaian.
B. Jenis-jenis Konflik
Handoko (1997) membedakan ada lima jenis konflik dalam
kehidupan organisasi, yaitu;
a) Konflik dalam diri individu,
b) Konflik antar individu dalam organisasi,
c) Konflik antar individu dan kelompok,
d) Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama, dan
e) Konflik antar organisasi.
Hunt and Metcalf (1996: 97) membagi konflik menjadi dua jenis,
yaitu:
a) Intrapersonal conflict (konflik intrapersonal)
Konflik intrapersonal adalah konflik yang terjadi dalam diri
individu sendiri, misalnya ketika keyakinan yang dipegang individu bertentangan
dengan nilai budaya masyarakat, atau keinginannya tidak sesuai dengan
kemampuannya. Konflik intrapersonal ini bersifat psikologis, yang jika tidak mampu
diatasi dengan baik dapat menggangu bagi kesehatan psikologis atau kesehatan
mental (mental hygiene) individu yang bersangkutan.
b) Interpersonal conflict (konflik interpersonal)
Sedangkan konflik interpersonal ialah konflik yang terjadi
antar individu. Konflik ini terjadi dalam setiap lingkungan sosial, seperti
dalam keluarga, kelompok teman sebaya, sekolah, masyarakat dan negara. Konflik
ini dapat berupa konflik antar individu dan kelompok, baik di dalam sebuah
kelompok (intragroup conflict) maupun antar kelompok (intergroup conflict).
Dalam penelitian ini titik fokusnya adalah pada konflik sosial remaja, dan
bukan konflik dalam diri individu (intrapersonal conflict).
C. Proses Konflik
Louis R. Pondy (dalam George & Jones, 1999:660)
merumuskan lima episode konflik yang disebut “Pondys Model of Organizational
Conflict”. Menurutnya, konflik berkembang melalui lima fase secara beruntun,
yaitu : latent conflict, perceived conflict, felt conflict, manifest conflict
and conflict aftermath.
a) Tahap I, Konflik terpendam. Konflik ini merupakan bibit
konflik yang bisa terjadi dalam interaksi individu ataupun kelompok dalam
organisasi, oleh karena set up organisasi dan perbedaan konsepsi, namun masih
dibawah permukaan. Konflik ini berpotensi untuk sewaktu-waktu muncul ke
permukaan.
b) Tahap II, Konflik yang terpersepsi. Fase ini dimulai ketika
para actor yg terlibat mulai mengkonsepsi situasi-situasi konflik termasuk cara
mereka memandang, menentukan pentingnya isu-isu, membuat asumsi-asumsi terhadap
motif-motif dan posisi kelompok lawan.
c) Tahap III, Konflik yang terasa. Fase ini dimulai ketika para
individu atau kelompok yang terlibat menyadari konflik dan merasakan penglaman-pengalaman
yang bersifat emosi, seperti kemarahan, frustasi, ketakutan, dan kegelisahan
yang melukai perasaan.
d) Tahap IV, Konflik yang termanifestasi. Pada fase ini salah
satu pihak memutuskan bereaksi menghadapi kelompok dan sama-sama mencoba saling
menyakiti dan menggagalkan tujuan lawan. Misalnya agresi terbuka, demonstrasi,
sabotase, pemecatan, pemogokan dan sebagainya.
e) Tahap V, Konflik sesudah penyelesaian. Fase ini adalah fase
sesudah konflik diolah. Bila konflik dapat diselesaikan dengan baik hasilnya
berpengaruh baik pada organisasi (fungsional) atau sebaliknya (disfungsional).
Daftar pustaka :
Suharto, Edi, (2005). Membangun Masyarakat
Memberdayakan Masyarakat: Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan
Pekerjaan Sosial, Bandung: Refika Aditama
Shardlow, Steven. (1998). Values, Ethics and Social
Work. Di dalam : Robert Adams, Lena Dominelle, Malcolm Payne, editor. Social
Work : Themes, Issues and Critical Debates. London : Mac Millan
Press Ltd.
Kreitner, Robert, Angelo kinicki. Tanpa Tahun.
Perilaku Organisasi . Terjemahan Erly Suandy. 2005. Jakarta: Salemba Empat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar